Kamis, 05 Juni 2008

Renungan tentang pernikahan

Kalau dua-duanya doyan musik, berarti ada gejala bisa langgeng donk..
Kalau sama-sama suka sop buntut berarti masa depan cerah nech…
kalo dua2 nya punya posisi yang bagus,bakalan gak ada masalah ekonomi nantinya...


…(That simple?……..) But... Ternyata....

Kecocokan, minat dan latar belakang keluarga bukan jaminan segalanya akan lancar..

Berbeda dengan sepasang sandal yang hanya punya aspek kiri dan kanan, menikah adalah persatuan dua manusia, pria dan wanita.
Dari anatomi saja sudah tidak sebangun, apalagi urusan jiwa dan hatinya.
Lalu apa? MENIKAH adalah proses pendewasaan. Dan untuk memasukinya diperlukan pelaku yang kuat dan berani.
Berani menghadapi masalah yang akan terjadi dan punya kekuatan untuk menemukan jalan keluarnya.
Kedengarannya sih indah, tapi kenyataannya? Harus ada ‘Komunikasi Dua Arah’, ‘Ada kerelaan mendengar kritik’, ‘Ada keikhlasan meminta maaf’, ‘Ada ketulusan melupakan kesalahan, dan Keberanian untuk mengemukakan pendapat’.
Sekali lagi MENIKAH bukan hanya upacara yang diramaikan dengan gending cinta, bukan juga rancangan gaun pengantin ala cinderella, apalagi rangkaian mobil undangan yang memacetkan jalan.
MENIKAH adalah berani memutuskan untuk berlabuh, ketika ribuan kapal pesiar yang gemerlap memanggil-manggil.
MENIKAH adalah proses penggabungan dua orang berkepala batu dalam satu ruangan dimana kemesraan, ciuman, dan pelukan yang berkepanjangan hanyalah bunga.
Masalahnya bukanlah menikah dengan anak siapa, yang hartanya berapa, bukan juga rangkaian bunga mawar yang jumlahnya ratusan, atau perencanaan berbulan-bulan yang akhirnya membuat keluarga saling tersinggung, apalagi jika hanya berdasarkan dengan kegemaran minum kopi yang sama…
MENIKAH adalah proses pengenalan diri sendiri maupun pasangan anda.Tanpa mengenali diri sendiri, bagaimana anda bisa memahami oranglain…?? Tanpa bisa memperhatikan diri sendiri, bagaimana anda bisa memperhatikan pasangan hidup…??
MENIKAH sangat membutuhkan keberanian tingkat tinggi, toleransi sedalamsamudra,serta jiwa besar untuk ‘Menerima’ dan ‘Memaafkan’.
* Kesalahan terbesar kita dalam memilih pasangan adalah kita lebih mementingkan dengan siapa kita menikah bukan seperti apa orang yang akan kita nikahi.
(Dari sebuah email)

4 komentar:

Anonim mengatakan...

wah jadi ragu2x nih mau menikah. Jgn2x banyakan berantemnya ketimbang rukunnya hehe...

Makasi ya uda visit :)

Diana Banks mengatakan...

@Tigis
Hi, makasih juga udah mampir.. Mo menikah ya?? wah jangan lupa undangannya ya..
KALo niat nya udah mantab (pake b)Tinggalkan keraguan2..

hamsi mengatakan...

Kalo emang sudah waktunya, insya Allah pasti dikasih jalan.

Ryane mengatakan...

jd terinspirasi nih.. hehehehe.. salam kenal juga ya mbak. terima kasih sdh mampir.. :)